Sepenggal kisah Pilu Mantan Napi, Terus Menangis Ketika Awal Menghuni Lapas

Intinews.net – Kumbang (nama samaran) mantan napi kasus penusukan yang baru lepas beberapa bulan lalu merasakan dan menyaksikan bagaimana tersiksanya para napi tinggal di lapas yang penuh sesak.

Rasa rindu terhadap keluarga membayangi perasaan para napi yang terkekang raganya menunggu hukuman berakhir. Butuh waktu untuk bisa beradaptasi dengan lingkungan lapas yang tergolong keras.

Bagi orang yang baru pertama kali masuk penjara tentu merasakan tersiksanya lahir dan batin. Mulai dari urusan tidur, makan dan minum sampai masalah kebutuhan biologis seperti hubungan seks.

Warga Tangerang Selatan ini mengaku hanya bisa menangis selama seminggu di sel pada malam hari disaat para napi tertidur lelap. Ia berusaha menahan tetes air matanya, tapi tetap saja keluar bila teringat anak istrinya.

Untungnya ia masih bisa mengobati rasa kangennya kepada anak dan istri dengan menghubungi istrinya melalui handphone yang mau dipinjamkan salah seorang napi di selnya.

“Kalau nelpon kudu bayar sama pemiliknya. Berapa pulsa yang kepakai itu yang kudu dibayar,” ujarnya.

Untuk membayar pulsa yang kepakai, ia meminta istrinya di rumah mengisikan pulsa handphone yang digunakannya. Walaupun hanya sebentar, biasanya pemilik handphone meminta isikan pulsa Rp10 ribu. Bila lama sampai Rp50 ribu tiap kali nelpon.

Kehidupan di penjara memang keras, siapa yang kuat itu yang bertahan. Dengan kata lain, siapa yang bernyali tentu akan ditakuti dan disegani oleh para napi lainnya. Namun ada saja sesama napi yang berkelahi hanya masalah sebatang rokok.

Jika sudah berkelahi, para napi bukannya melerai, tapi malah disorakin seolah-olah melihat tontonan film gratis secara langsung. Bahkan, ada juga napi yang terluka karena tusukan benda tajam yang terbuat dari batang plastik sikat gigi.

Bagi yang kalah biasanya sampai masuk rumah sakit, tapi bagi yang menang akan mendapatkan sanksi kurungan di sel hukuman disiplin. Biasanya nggak boleh dijenguk sama keluarga selama beberapa hari sampai sanksi hukuman dicabut.

“Hampir setiap bulan ada saja napi yang berkelahi karena saling tersinggung,” imbuhnya.

Selain pengalaman pahit dan sengsara, ada juga pengalaman menarik yang ia saksikan ketika melihat para napi kasmaran dengan istri atau pacar yang menjenguk mereka. Tanpa malu pasangan ini bercumbu tanpa menghiraukan orang di sekitarnya.

Walaupun raga terpenjara, kebutuhan biologis merekapun masih dapat terpenuhi. Bahkan, di lorong sempit yang dijaga para napi, mereka masih bisa melakukan hubungan layaknya suami istri untuk memenuhi kebutuhan batinnya.

“Kalau sudah urusan begitu ya biasanya rasa malunya sudah putus sehingga tak peduli sama orang di sekitarnya,” ucap Kumbang (nama samaran) sambil tersenyum mengingat kejadian itu.

COMMENTS