Kata BPS, Begini Definisi masyarakat Miskin di Indonesia

Intinews.net – Laporan dari Badan Pusat Statistik (BPS) angka kemiskinan di Indonesia meningkat hingga 3,63%, yang semula Rp 387.160 per kapita pada September 2017 menjadi Rp 401.220 per kapita per bulan di Maret 2018.

Melansir dari detik.com (16/7/2018), menurut Direktur Statistik Ketahanan Sosial BPS Harmawanti Marhaeni, angka kemiskinan dipergunakan sebagai suatu batas untuk menggolongkan penduduk menjadi miskin atau tidak miskin.

“Iya, jadi garis kemiskinan di Maret 2018 itu menurut pendapatannya Rp 401.220 per kapita per bulan,” kata dia saat dihubungi detikFinance, Jakarta, Senin (16/7/2018).

Menurutnya, bila masyarakat di Indonesia memiliki pendapatan di atas dari batas yang ada per Maret 2018, maka tidak termasuk sebagai orang miskin. Namun sebaliknya, bila penghasilannya di bawah batas maka masuk ke dalam kategori orang miskin.

Katanya, kenaikan angka kemiskinan tersebut disebabkan pengaruh harga komoditas yang banyak dikonsumsi oleh orang miskin.

“Lalu karena perubahan komposisi komoditas yang dikonsumsi,” tambah dia.

Adapun daftar komoditas yang memberi sumbangan besar terhadap garis kemiskinan antara lain, beras, rokok kretek filter, telur ayam ras, daging ayam ras, mie instan, gula pasir, mie instan, kopi bubuk dan kompi instan (sachet), kue basah, tempe, tahu, roti, bawang merah, dan lainnya.

Ada juga yang berasal dari komoditas bukan makanan, yakni perumahan, bensin, listrik, pendidikan, perlengkapan mandi, angkutan, kesehatan, dan lainnya.

“Jika harga komoditas-komoditas ini naik maka garis kemiskinan akan naik, contoh saat harga beras naik akan sangat berpengaruh ke garis kemiskinan karena share beras sekitar 20%,” jelas dia.

Sumber: Hendra Kusuma – detikFinance

COMMENTS